kelas : 1ia23
NPM : 57415224
1. Manusia
dan Pederitaaan
Penderitaan berasal dari kata Derita yang artinya
menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan juga merupakan teguran Tuhan
kepada Umat-Nya agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Sebelum
penderitaan itu terjadi pada umumnya manusia telah diberikan tanda, tanda itu
dapat berupa mimpi dan lain sebagainya.
Penderitaan itu dapat berkurang tergantung bagaimana
manusia menyikapi penderitaan itu. Bagi manusia yang tebal imannya musibah yang
sedang dialaminya akan segera menyadarkan dirinya untuk bertaubat kepada Nya
dan pasrah terhadap takdir yang telah ditentukan Tuhan terhadap diri nya, dan
yakin bahwa kekuasaan Tuhan jauh lebih besar dari dirinya. Kepasrahan itu yang
membuat manusia merasakan kedamaian dalam hatinya dan lama kelamaan akan
berkurang penderitaan yang dialaminya.
Dalam surat Al-Insyiqoq ayat 6 dinyatakan bahwa
Manusia ialah makhluk yang hidup nya penuh perjuangan. Ayat tersebut dapat
diartikan bahwa manusia harus bekerja keras untuk kelangsungan hidup nya yaitu
dengan cara menghadapi alam, menghadapi manusia disekelilingnya dan tidak lupa
untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apabila manusia melalaikan salah
satu nya akibatnya manusia akan menderita.
Penderitaan itu ada yang fisik dan ada yang psikis.
Penderitaan fisik dapat dihadapi dengan cara medis untuk mengurangi atau
menyembuhkannya. Sedangkan penderitaan psikis penyembuhannya terletak pada
kemampuan penderita menyelesaikan persoalan-persoalan psikis.
2. Manusia
dan Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam
tindakan menuia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau
benda dan kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah
ditetapkan, maka masing-masing orang harus memiliki hasil yang sama.
Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan
kewajiban. Atau dengan kata lain keadilan adalah keadaan bila setiap orang
memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memiliki bagian yang sama
dari kekayaan bersama.
Ada beberapa macam keadilan yaitu a). keadilan
moral, b). keadilan distributive, c). keadilan komunikatif.
3. Manusia
dan Pandangan Hidup
Pengertian pandangan hidup Setiap manusia
mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu
menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti
pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang
dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau
pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman
sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Pandangan Hidupmerupakan suatu dasar
atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup
ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua
manusia pasti mempunyai suatu pandangan hidup sendiri – sendiri dan kemungkinan
berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tak sedikit pula orang yang
mempunyai pandangan hidup yang sangat bertentangan dengan pandangan hidup orang
yang lainnya, itulah yang sering memicu perdebatan diantara umat manusia dalam
kehidupan sehari hari
Orang yang memiliki pandangan hidup pasti memiliki
tujuan, dan tujuan ini biasa di sebut cita-cita. Menurut kamus umum Bahasa
Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu
ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang
mau diperoleh seseorang pada masa mendatang.
Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan.
Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan.
TOKOH
INSPIRATIF
Banyak
sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kisah nabi Yusuf. Entah itu kita
perempuan atau laki-laki yang berperan sebagai orang tua, berperan sebagai
kakak-adik, suami istri, atau kita berperan sebagai seorang pemimpin.
Penderitaan
yang pernah kita alami mungkin tidak seberat penderitaan nabi Yusuf. Godaan
yang kita hadapi tak sehebat godaan nabi Yusuf. Dimana iri, dengki,
persekongkolan, perselingkuhan, godaan nafsu dan kebencian yang menyelimuti
perjalanan hidup nabi Yusuf. Kondisi demikian tidak membuat beliau patah arang,
sebab tempat bersandarnya hanyalah Allah.
Betapa
sakitnya dimusuhi oleh saudara sendiri dan dibuang ke dalam sumur di tengah
gurun. Ia dibuang oleh saudara kandungnya yang iri pada Yusuf karena ia anak
yang disayangi oleh bapaknya, Yaqub. Ketika Yaqub mendengar bahwa Yusuf ditelan
takdir, Yaqub tetap tabah mendengar kabar kehilangan putra kesayangannya.
Dari
sinilah kita belajar bahwa dibalik musibah terkandung hikmah. Setelah dibuang
oleh saudaranya sendiri, Yusuf dijadikan budak oleh seorang pejabat istana di
mesir. Pejabat ini mempunyai istri bernama zulaikha. Ketampanan Yusuf membuat
zulaikha dan para perempuan terpesona. Zulaikha tergoda nafsunya untuk memiliki
Yusuf seutuhnya, padahal ia masih mempunyai suami seorang pejabat istana.
Suatu
hari zulaikha menjebak Yusuf dalam kamarnya. Karena pertolongan Allah Yusuf
terhindar dari jebakan nafsu itu, dan suami zulaikha mengetahui perselingkuhan
istrinya itu. Tidak hanya disitu, Yusuf malah difitnah mau memperkosa.
Lagi-lagi Allah menunjukan keadilannya dengan analisa baju Yusuf yang robek di
belakang. Jika robeknya di belakang, tidak mungkin Yusuf yang memperkosa wanita
itu. Kalaupun Yusuf yang memperkosa, maka bajunya akan robek di bagian depan.
Cobaan
tidak sampai disana, Yusuf harus rela mendekam dalam penjara karena fitnah dari
orang-orang yang membencinya. Dalam penjara Yusuf berkenalan dengan dua orang
penghuni penjara yang sedang bermimpi. Yusuf menafsirkan mimpi kedua
orang itu dimana salah satu diantara mereka akan di hukum mati, sedang
satu lagi akan hidup dan menjadi pelayan istana. Salah satu yang hidup diantara
mereka harus menyampaikan pesan kepada raja agar Yusuf dibebaskan karena ia
telah difitnah.
Saat
salah satu dari orang itu lepas dan bekerja sebagai pelayan di istana, ia lupa
dengan janjinya kepada yusuf. Sehingga Yusuf masih mendekam dalam penjara.
Lagi-lagi Yusuf diberikan cobaan karena telah dingkari janji oleh seseorang
yang telah ia bantu.Yusuf tidak sendiri, Allah masih bersama beliau. Teman
sepenjara itu ingat kembali dengan Yusuf takkala sang raja Mesir mengalami
mimpi dan sang raja ingin mencari siapa yang bisa menafsirkan mimpi. Hanya
Yusuf yang mampu menafsirkan mimpi itu dan berkat bantuan Allah Yusuf bebas
dari penjara dan menjadi pejabat kerajaan.
Salah
satu benang merah yang dapat ditarik dari kisah Yusuf adalah perjalanan hidup
beliau yang penuh dengan cobaan dan musibah. Ia tetap kuat menghadapi karena
tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha
Penyayang. Allah tempat sebaik-baiknya bersandara dalam kehidupan ini.
Daftar
Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar